Berdasarkan pendahuluan tersebut, makalah ini bertujuan untuk
mengidentifikasi perkembangan penelitian mengenai Customer Profitability
Analysis
(CPA) dari sudut pandang akuntansi manajemen. Bagian selanjutnya,
penulis akan mengidentifikasi perkembangan pengukuran yang digunakan dalam
CPA, setting
penelitian terdahulu dan ide baru mengenai penelitian CPA
selanjutnya. Kemudian dibagian terakhir, penarikan kesimpulan dari makalah ini.
Perkembangan Riset Customer Profitability Analysis
(CPA)
Penelitian mengenai CPA diinisiasi oleh artikel yang ditulis oleh
Bellis-Jones pada tahun 1989. Dalam artikel, peneliti menyatakan bahwa teknik
akuntansi konvensional saat itu tidak cukup mampu digunakan untuk
menganalisis keuntungan. Sehingga, peneliti menawarkan teknik analisis lain
yang dianggap lebih baik yang disebut sebagai Customer Profitability Analysis
.
Pada dasarnya, CPA adalah menghitung pendapatan dan seluruh biaya dari
bisnis yang dijalankan. Biaya yang muncul bervariasi tergantung pada tipe
pelanggan dan tingkatan aktivitas. Sehingga, teknik ini mampu menganalisis
kembali akun laba rugi untuk menghasilkan individual profit statement dari setiap
pelanggan (Bellis-Jones, 1989).
Selanjutnya, isu mengenai pentingnya CPA dibahas kembali oleh Howell
pada tahun 1990. Banyak perusahaan mengira bahwa pelanggan dengan jumlah
pesanan terbanyak adalah pelanggan yang paling menguntungkan. Namun,
Howell (1990) berargumen bahwa hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Pelanggan
yang paling menguntungkan adalah yang memiliki jumlah pesanan yang tinggi
namun biaya yang dikeluarkan untuk memenuhi pesanan tersebut tidak signifikan.
Biaya yang muncul antara lain biaya produksi pesanan, biaya pemasaran, dan
biaya proses penjualan.
Oleh sebab itu, perusahaan perlu mengontrol biaya- biaya tersebut agar
dapat mengeliminasi biaya dari aktivitas yang bersifat non-value-added
. Kontrol
dapat dilakukan jika perusahaan dapat melakukan analisis atas customer
profitability dan product profitability
. Howell (1990) mengajukan Resource
3