Prosiding Seminar Nasional Limnologi VI Tahun 2012
739
PENGEMBANGAN SILVOFISHERY KEPITING BAKAU (Scylla serrata)
DALAM PEMANFAATAN KAWASAN MANGROVE DI KABUPATEN BERAU,
KALIMANTAN TIMUR
Triyanto1), Nirmalasari Idha Wijaya2), Tri Widiyanto1), Ivana Yuniarti1), Fajar
Setiawan1), Fajar Sumi Lestari1)
1)Pusat Penelitian Limnologi-LIPI; 2) STIPER Kutai Timur
Email: triyanto@limnologi.lipi.go.id
ABSTRAK
Kawasan pesisir Kabupaten Berau di Propinsi Kalimantan Timur yang memiliki potensi kawasan
mangrove yang cukup besar (47.349 Ha) atau sebesar 59,03% dari seluruh wilayah pesisir yang ada.
Kawasan mangrove di pesisir Kabupaten Berau memiliki peran yang strategis sebagai kawasan penyanggah
kepulauan Derawan yang memiliki keindahan panorama laut yang mendunia dan sumberdaya kelautan yang
tinggi. Ekosistem mangrove merupakan area pengasuhan utama bagi banyak spesies ikan, udang dan
kepiting, termasuk kepiting bakau. Produksi tangkapan kepiting bakau dari wilayah Kabupaten Berau turut
berkontribusi dalam perdagangan kepiting di Kalimantan Timur yang cukup signifikan. Area mangrove di
Kabupaten Berau terutama di Delta Berau telah dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya tambak udang.
Namun sayangnya budidaya tambak dilakukan dengan cara membuka area mangrove, sehingga fungsi
ekologis ekosistem mangrove hilang. Hal ini dapat menjadi ancaman bagi keberlanjutan sumberdaya
perikanan. Untuk pengoptimalan pemanfaatan kawasan mangrove perlu dikembangkan sistem budidaya
yang ramah lingkungan, seperti silvofishery. Silvofishery merupakan bentuk budidaya perikanan
berkelanjutan dengan input yang rendah, dengan pendekatan terintegrasi sehingga dalam pemanfaatan
sumberdaya mangrove dapat tetap mempertahankan keutuhan dan kelestarian kawasan mangrove itu sendiri.
Pengembangan budidaya kepiting bakau dengan system Silvofishery dapat menjadi alternatif aktivitas
ekonomi bagi rakyat pedesaan di pesisir dan dapat mengurangi tekanan ekologi terhadap hutan mangrove.
Kata Kunci: Kepiting bakau, mangrove, silvofishery, dan Kabupaten Berau
Pendahuluan
Kabupaten Berau memiliki sumberdaya hutan mangrove yang sangat berpotensi
untuk dimanfaatkan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Hutan mangrove
Kabupaten Berau terdapat mulai dari bagian utara di Tanjung Batu, Delta Berau, sampai ke
selatan di Biduk-biduk. Selain itu hutan mangrove juga ditemukan di beberapa pulau,
seperti Pulau Panjang, Rabu-rabu, Semama dan Maratua di bagian utara pesisir Berau, dan
di Pulau Buaya-buaya di bagian selatan pesisir Berau. Secara keseluruhan luas kawasan
mangrove sebesar 80.277 ha. (Wiryawan, et al. 2005)
Tingkat kerusakan kawasan mangrove di Propinsi Kalimantan Timur sudah cukup
mengkawatirkan. Tercatat seluas 329.579 ha mengalami rusak berat, 328.695 ha rusak
ringan, sisanya 225.105 atau hanya sekitar 25,48 persen yang dalam kondisi baik
(Tribunnews.com, 2010). Dari segi kondisi kawasan mangrove, Kabupaten Berau relatif
masih memiliki kondisi kawasan mangrove yang lebih baik bila dibandingkan dengan